“Politeknik Pelayaran Banten, (Indonesia) dan Tiga Institusi Maritim Asia Terlibat dalam Proyek Penelitian Bersama World Maritime University, Swedia”

Menanggapi meningkatnya kasus penelantaran awak kapal (seafarer abandonment) yang dilaporkan secara global, World Maritime University (WMU) meluncurkan sebuah inisiatif penelitian berskala besar berjudul “Seafarer Abandonment: A Focused Investigation into Regulatory Implementation.”

Penelitian ini didanai oleh The TK Foundation, The ITF Seafarers’ Trust, dan The Seafarers’ Charity. Fokus utama penelitian adalah mengkaji bagaimana perlindungan internasional yang telah ada, khususnya yang diatur dalam Maritime Labour Convention, 2006 (MLC, 2006), diterapkan di negara bendera kapal, negara pelabuhan, dan negara pemasok tenaga kerja maritim.

Data tahun 2024 menunjukkan terdapat 312 kasus penelantaran awak kapal yang melibatkan lebih dari 3.100 pelaut. Jumlah tersebut meningkat sekitar 87 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, laporan terbaru dari basis data bersama IMO/ILO menunjukkan peningkatan lanjutan pada tahun 2025 dengan ratusan kasus baru yang berdampak terhadap ribuan pelaut di seluruh dunia.

Penelitian ini juga akan mengeksplorasi pengalaman nyata para awak kapal yang ditelantarkan beserta keluarganya, termasuk dampak sosial, ekonomi, psikologis, dan kesehatan yang mereka alami akibat penelantaran.

Presiden World Maritime University (WMU), Professor Maximo Q. Mejia Jr., menyampaikan bahwa penelantaran awak kapal merupakan persoalan kompleks dan memprihatinkan yang berdampak langsung terhadap para pekerja utama di sektor pelayaran dan keluarganya. Menurutnya, meningkatnya kasus penelantaran menunjukkan perlunya kerangka hukum yang lebih kuat serta implementasi perlindungan yang lebih efektif bagi pelaut.

Dalam proyek penelitian internasional ini, WMU bekerja sama dengan empat institusi pendidikan maritim di Asia, yaitu Dalian Maritime University (Tiongkok), Indian Maritime University (India), Maritime Academy of Asia and the Pacific (Filipina), serta Politeknik Pelayaran Banten (Indonesia).

Keterlibatan Politeknik Pelayaran Banten yang menjadi wakil Indonesia dalam penelitian global ini menjadi bagian dari komitmen institusi dalam mendukung pengembangan riset maritim internasional, khususnya yang berkaitan dengan perlindungan tenaga kerja maritim, kesejahteraan pelaut, serta penguatan tata kelola maritim yang berkelanjutan.Direktur Politeknik Pelayaran Banten Capt. Dedtri Anwar, SE, MM menyatakan bahwa Para Dosen Peneliti di Politeknik Pelayaran Banten siap berjejaring dalam menghasilkan penelitian yang berdampak terhadap industri maritim global.

Dukungan serupa juga diberikan oleh Kepala BPSDM Perhubungan Bapak Suharto bahwa Politeknik Pelayaran Banten merupakan Maritime Education Training (MET) pertama di Indonesia yang dipilih dan dipercaya oleh WMU untuk terlibat sebagai partner research di Indonesia dan ini merupakan sejarah baru bagi BPSDM Perhubungan.

World Maritime University, Swedia merupakan Universitas maritim terbaik didunia dan memiliki reputasi yang berdampak terhadap hasil penelitian dalam industri maritim dan berada dalam naungan International Maritime Organization (IMO) dan yang merupakan agency dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Melalui kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi maritim internasional, penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi berbasis bukti guna memperkuat implementasi regulasi internasional serta meningkatkan perlindungan dan hak-hak pelaut di seluruh dunia.